Showing posts with label Amsal. Show all posts
Showing posts with label Amsal. Show all posts

Wednesday, May 1, 2013

Amsal 3


Berkat Hikmat
Bapa mendorong anak untuk mengejar didikannya, ketika ia menguasainya, tidak diperbolehkan untuk meninggalkannya. Jika anak melaksanakannya, ia akan menemukan upah yang besar, dalam artian kesehatan, keamanan, dan kekayaan. Terdapat kesulitan dalam mengetahui bahwa ketika mengalami penderitaan adalah untuk mengajari kita atau ada hal lain di belakangnya. Penulis Amsal sangat sadar bahwa melalui penderitaan seringkali membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.
 
Amsal 3:1 Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku,

Bagian ini dimulai dengan seruan kepada anak untuk memperhatikan ajaran dan perintah bapanya. Kita telah membicarakan pentingnya ajaran dan perintah bapa . Apa yang menjadi sumber ajaran maupun perintah bapa? Apakah berbeda dari hukum yang ada pada "Pentateuk" ? Anggapan kita bahwa ajaran maupun perintah yang bapa inginkan supaya anak menaatinya berasal dari pengajaran orang tua yang bergantung pada hukum pentateuk. Hukum-hukum ini tidak boleh dilupakan, dalam arti lain mengingatnya, dan mengingat segala sesuatu dari PL berarti lebih dari pada sekedar ingatan secara sadar. Mengingat, atau tidak melupakan berarti juga menaati. Ketaatan anak lebih dari masalah yang dangkal seperti pada ayat di atas kolom kedua, di mana di hatinyalah berdiri inti kepribadiannya yang melindungi perintah. Melindungi berarti mengamati perintah-perintah yang telah tertanam dalam hati anak.


Amsal 3:2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.

Motivasi atas ketaatan dapat dalam bentuk upah / hadiah. Menaati perintah akan menyebabkan umur yang panjang. Perintah-perintah tersebut adalah bagian kecil pedoman hidup yang sehat. Semua hal akan seimbang, bagi orang-orang yang mengikuti jalan hidup Tuhan seperti yang diajarkan oleh bapa yang bijak akan hidup lebih lama daripada orang-orang yang berlagak mengikutinya. Namun hal ini lebih dari sekedar umur panjang yang diperlihatkan di sini. Hidup yang panjang dengan penuh penderitaan atau perjuangan bukanlah sesuatu hal yang menjadi upah. Bapa menambahkan kualifikasi bahwa hidup yang panjang dari anak yang taat akan dicirikan dengan "damai". Damai berarti lebih dari sekadar ketiadaan perjuangan; tetapi menunjuk kepada keadaan hidup yang berharga dan penuh arti.

Amsal 3:3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,
Ayat ini merujuk kepada peringatan. Bapa terus menuntut untuk hidup dengan kasih dan setia. Ia meminta anak mengikat kasih dan setia pada lehernya dan menuliskannya pada loh hatinya. Mungkin pada leher disebutkan di sini karena ketidaktaatan dapat digambarkan sebagai leher yang keras. Loh hati adalah ungkapan hukum yang menunjuk kepada internalisasi perintah Tuhan dalam hidup, jadi bukan hanya tindakan namun juga motivasi yang suci.

Amsal 3:4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.

Ayat ini dapat dimengerti sebagai konsekuensi ketaatan. Sebagai upah ketaatan, Tuhan dan manusia akan menghormati orang yang mendapat kasih dan penghargaan. Orang-orang tersebut akan dihormati dan dicari atas hikmat mereka.

Amsal 3:5-6 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Lagi-lagi bapa memperingatkan anak untuk percaya kepada TUHAN. Percaya kepada TUHAN menyatakan bahwa orang tidak akan  mempercayai kemampuannya sendiri. Orang yang memiliki pengertian yang kurang akan terbuka terhadap kekuatan dan hikmat Tuhan, yaitu panduan hidup yang lebih baik. Jika orang tahu Tuhan ada dalam jalannya, orang itu akan tentunya adalah orang yang benar, dan Ia akan menjaga orang itu agar tetap di jalan yang lurus.

Amsal 3:7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;
Dengan kata lain anak tidak diperbolehkan bergantung pada pengertiannya sendiri. Jika ia berpikir bahwa ia bijak, maka ia akan mencoba melakukan segala hal dengan dengan kemampuannya sendiri, yang mana tidak akan cukup. Kebalikan dari hal itu adalah takut akan Tuhan yang akan mengembalikan anak pada pandangan yang benar dan secara alami akan menjauhi kejahatan.
Amsal 3:8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.
Jika orang-orang takut akan Tuhan, menghindari kejahatan, dan tidak menganggap diri bijak, maka mereka akan disembuhkan dan disegarkan. Namun ini bukanlah janji tetapi adalah kebenaran, segala sesuatu saling menyeimbangkan. Hal ini akan menciptakan dorongan untuk melakukan hal yang benar.  
Amsal 3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,

Orang dapat menunjukkan bahwa mereka mempunyai kelakuan yang benar terhadap TUHAN, dalam mempercayai dan takut kepada-Nya, jika mereka bersedia memberikan bagian dari kekayaan mereka.
Amsal 3:10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.
Akibat dari menaati peringatan pada ayat 9 akan membuahkan upah pada ayat 10. Kita harus mencatat bahwa proses bertambahnya kekayaan tidaklah secara eksplisit, namun kita harus menyadari bahwa Tuhanlah di belakang kelimpahan itu.

Amsal 3:11 Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.
Bapa mengakhiri dengan peringatan terakhir untuk tidak menolak peringatan TUHAN. Orang bijak ingin memperbaiki pikiran dan tindakan mereka yang salah, hanya orang bodoh yang menolaknya. Di sini bapa bertindak sebagai orang bijak dan menyampaikan didikan Tuhan. 
Amsal 3:12 Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.

Tuhan ingin agar orang-orang-Nya tidak terus berkelakuan dan bersikap yang merusak diri sendiri. Seperti seorang bapa yang hadir memperlakukan anaknya dengan baik. Ajaran, walaupun menyakitkan juga dapat dilihat sebagai perlakuan yang baik, tanda anugerah.

Tuesday, March 5, 2013

Amsal 2

Faedah dari pada Menuntut Hikmat
Amsal pasal 2 ini berisi didikan yang berupa teguran yang menuntut hikmat dan berisi ceramah yang panjang dari seorang bapa kepada anaknya, dengan mendorong sang anak untuk mengejar hikmat secara aktif sehingga sang anak menemukan rasa takut akan Tuhan dengan segala kelakuan dan pengertian yang beretika. Hikmat ini akan menyelamatkan sang anak dari segala macam masalah dalam hidupnya, termasuk bahaya oleh wanita asing.
Untuk memudahkan dalam membaca pasal 2 ini, ayat-ayatnya dipecah menjadi beberapa bagian kalimat, diantaranya memiliki kalimat kondisional yang rumit (jika ... maka ...) diselingi klausa maksud (untuk) dan tujuan (kepada). Pasal 2 ini diakhiri dengan deklarasi bahwa siapa yang jujur atau tidak bersalah (orang yang mempeerhatikan kata-kata bapa dan menemukan rasa takut akan Yahweh), akan diperbolehkan untuk tinggal di tanah yang dijanjikan, tetapi siapa yang tidak demikian akan dihapus dari tanah yang dijanjikan.
Intisari:
pasal 2:1-8 adalah sang anak didorong untuk mendengarkan bapa agar menemukan rasa takut akan Yahweh dan menerima hikmat yang akan melindungi mereka.
pasal 2:9-15 berisi tentang hikmat yang memelihara kesadaran kepekaan etikal yang akan menjaga anak dari orang-orang jahat.
pasal 2:16-19 hikmat menjaga anak agar tidak terjerumus ke perempuan asing.
pasal 2:20-22 konsekuensi akhir; yang benar akan bertahan, dan yang fasik akan dibuang .

Amsal2 2:1 Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,
Ayat ini dimulai dengan protasis (klausa 'jikalau') dari kalimat kondisional di mana bapa menunjukkan dan mendorong anaknya agar mendengarkan ajaran-ajarannya dan mengejar hikmat. Bapa menginginkan bahwa anaknya melakukan lebih dari sekedar mendengarkannya, yaitu kesediaan untuk menerima apa yang dikatakan bapa, tidak hanya untuk membuka pikiran. Kata 'perintah' secara khusus seringkali muncul dalam alkitab, dimana kata 'perintah' ini dihubungkan dengan hukum Allah.


Amsal 2:2 sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian,
Orang mendengarkan menggunakan telinga, tetapi bapa membutuhkan tindakan sang anak yang lebih dari sekedar mendengarkan. Hati melambangkan kepribadian dan karakter seseorang. Meskipun hati merupakan keseluruhan dalam diri seseorang, pada keadaan tertentu ada penekanan pada kognitif. Telinga maupun hati menjadi sarana pengembangan internal maupun eksternal. Penerimaan terhadap pengajaran bapa melibatkan tindakan yang lebih dari hanya sekedar mendengarkan; orang harus mengarahkan dirinya pada hikmat untuk mendapatkan manfaat darinya.

Amsal 2:3 ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian,
Bapa ingin agar anak mengambil langkah selanjutnya dalam mencari hikmat. Anak tidak hanya terbuka terhadap pengaruh hikmat yang datang kepadanya, tetapi anak harus juga mengejarnya secara aktif. Anak didorong untuk menggunakan suaranya untuk memanggil hikmat.

Amsal 2:4 jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,
Ayat ini menjelaskan jenis-jenis tindakan yang diinginkan oleh sang bapa terhadap anaknya untuk memperoleh hikmat dan menyampaikan perlunya peningkatan. Pencarian hikmat berhubungan dengan istilah "kepandaian" dan pengertian", tetapi pencariannya harus adalah pencarian yang sungguh-sungguh seperti mencari perak atau harta terpendam karena nilainya yang begitu penting. Melalui kitab ini, Hikmat dibandingkan dengan logam yang berharga.

Amsal 2:5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.
Ayat ini membawa kita kepada apodosis (klausa 'maka'...) kalimat kondisional. Jika anak mengikuti didikan bapa seperti pada ayat 1-4 maka ia akan mengerti takut akan Yahweh dan menemukan pengetahuan akan Tuhan. Ayat ini mengingatkan kita bahwa hikmat dan pertalian dengan Yahweh adalah suatu jalinan secara utuh.

Amsal 2:6 Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.
Ayat 6-8 akan mendukung kalimat kondisional pada ayat 1-5 dengan klausa maksud yang panjang. Mencari hikmat, dan orang akan menemukan Tuhan. Menemukan Tuhan, dan orang akan memperoleh hikmat. Ayat 6b mempertajam pikiran dalam ayat 6a yang mengatakan bahwa hikmat secara khusus berasal dari mulut Yahweh. Dalam hal ini bapa adalah juru bicara Yahweh, oleh karena itu kata-kata bapa yang tertulis dalam kitab Amsal adalah kata-kata dari mulut Yahweh.

Amsal 2:7 Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya,
Ayat 7 menguraikan manfaat dari memperoleh hikmat yang membawa seseorang ke dalam hubungan dengan Tuhan. Di sini orang bijak digambarkan sebagai orang yang jujur dan tak bercela, serta melakukan apa yang benar secara moral. Dalam konteks ini, mereka adalah orang yang memperhatikan perintah bapa dan memperoleh hikmat. Sedangkan orang-orang yang tidak bersalah hidupnya ditandai dengan kebenaran etikal dan taat hukum. Tuhan menyediakan pertolongan dalam bentuk kekuatan dalam diri yang menolong orang meloloskan diri dari kesulitan, dengan kata lain sebagai perisai yang melindungi sesorang dari kemalangan hidup. Jika masalah muncul, si penerima hikmat Tuhan akan memiliki sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi masalah tersebut.

Amsal 2:8 sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia.
Ayat ini menyimpulkan bagian pembukaan pasal 2. Kata 'menjaga' adalah perluasan dari metafora perisai yang digunakan untuk menggambarkan pertolongan yang Tuhan berikan pada pengikut-pengikutnya. Kata 'jalan' dapat diartikan sebagai perjalanan kehidupan (berhubungan dengan keadilan dan kesetiaan), dan ayat ini menyatakan bahwa Tuhan melindungi perjalanan hidup orang-orang-Nya.

Amsal 2:9 Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.
Apodosis dalam ayat ini berfokus pada kepekaan moral yang merupakan hasil dari menganut didikan bapa yang menuntun kepada hikmat dan pengetahuan akan Tuhan. Hikmat membawa pencerahan etikal, pengertian akan kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

Amsal 2:10-11 Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu; kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau.
Ayat ini merupakan tujuan kedua dari Amsal 2:6 dan merupakan alasan untuk kepekaan moral. Hikmat dan pengetahuan akan menjadi bagian yang integral dari karakter anak. Ayat 11 menggambarkan fungsi perlindungan dari hikmat, yaitu kualitas pikiran yang positif melalui konsekuensi tindakan daan pemilihan jalan integritas.

Amsal 2:12-15 supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat, dari mereka yang meninggalkan jalan lurus dan menempuh jalan yang gelap; yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat, yang berliku-liku jalannya dan sesat perilakunya;
Anak sudah mendengar peringatan mengenai orang-orang jahat yang dapat mendatangkan malapetaka dalam hidup. Hikmat di sini berjanji untuk menjauhkan anak-anak yang bijak dari kelompok orang jahat. Orang-orang jahat ini tidak hanya berkata dan berbuat jahat atau bahkan tipu muslihat, mereka juga menikmatinya. Kata 'tipu muslihat' sering digunakan berlawanan dengan keimanan dan kebenaran. Berkata ataupun berbuat tipu muslihat berarti berkata ataupun berbuat sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran dan melawan perintah bapa maupun Tuhan sendiri.

Amsal 2:16-19 supaya engkau terlepas dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya, yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya; sesungguhnya rumahnya hilang tenggelam ke dalam maut, jalannya menuju ke arwah-arwah. Segala orang yang datang kepadanya tidak balik kembali, dan tidak mencapai jalan kehidupan.
Ayat ini berkaitan dengan ancaman lainnya terhadap anak, yaitu perempuan jalang. Peringatan terhadap perempuan jalang/asing dilengkapi dengan nasihat untuk memperoleh hubungan yang sehat dan vital dengan istri. Lebih jauh, persaingan akan kasih sayang antara perempuan jalang/asing dengan istri yang saleh bercermin pada Perempuan Berhikmat dengan Perempuan Bodoh. Kata "jalang" dan "asing dalam bahasa Ibrani dapat dimengerti dalam beberapa cara. Kata asing dapat dilihat dari keinginannya berjalan di luar batas moral, hukum, dan adat-istiadat. Ketiadaan batasan-batasan ini dikarenakan kegagalan dalam menghargai komitmen hubungan cintanya pada waktu mudanya sama seperti gagalnya perjanjian kepada Tuhannya. Pada kalimat pertama ayat 17 menuduhnya tidak  mempertahankan janji pernikahannya, hubungan cinta di sini yang dimaksud adalah pernikahannya. Dengan melakukan perzinahan, dia telah melanggar perjanjiannya dengan Tuhan. Dengan fakta bahwa dia memiliki perjanjian dengan Allah, hal ini dapat lebih jauh dilihat adalah wanita penggoda, bukan orang asing. Wanita penggoda merayu pria-pria dengan kata-kata rayuan dan penampilan menariknya. Perempuan ini begitu memikat, tetapi sangat-sangat berbahaya. Ayat 18-19 menjelaskan konsekuensi berelasi dengan perempuan yang tidak taat hukum, yang menuju tempat arwah-arwah. Jalannya menuju kematian dan jauh tidak mencapai kehidupan. "Rumahnya hilang tenggelam..." dapat diartikan sebagai gambaran bahwa ia tidak hanya perempuan itu saja yang menuju kematian, tetapi semua yang dimiliki dan berhubungan dengannya.

Amsal 2:20-22 Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu, dan pengkhianat akan dibuang dari situ.
Tiga ayat terakhir ini merupakan puncak kesimpulan dari pasal 2. Ayat 20 mengembalikan pikiran bahwa penerimaan hikmat akan menjaga orang agar tetap pada jalan yang benar. Anak tidak akan melalui jalan ini sendiri, karena di jalan ini ada orang-orang yang baik dan benar. Dua ayat terakhir adalah konsekuensi akhir dari dua jalan, dimana tidak ada jalan tengah atau jalan abu-abu. Orang-orang yang jujur dan tak bercela akan bertahan. Sedangkan orang-orang fasik dan pengkhianat akan dibuang. Ayat ini seperti perjanjian berkat dan kutuk. Dalam pasal 2, bapa memberikan argumen yang kuat dan memohon dengan berapi-api agar anak menerima hikmat yang dimulai dengan takut akan Tuhan. Hanya dengan cara ini anak akan terhindar dari ancaman kehidupan dan melanjutkan kehidupan jauh dari kematian.

Implikasi Teologi
Pasal ini merupakan daya tarik oleh bapa terhadap anak agar memperoleh hikmat. Daya tarik ini memiliki sisi paradoks: Hikmat adalah sesuatu yang harus anak dapatkan dengan kerja keras, namun Hikmat itu adalah anugerah dari Tuhan. Analogi terhadap paradox ini dapat kita temukan pada kitab lainnya, yaitu pada waktu peperangan Yerikho dan pertempuran Daud melawan Goliath mengilustrasikan prinsip ini dengan baik. Orang-orang Israel harus berperang seperti yang dinstruksikan dan diperintahkan Tuhan, ketika menang mereka tidak memuji kekuatan mereka sendiri, namun bersyukur kepada Tuhan yang telah mengizinkan mereka untuk menang.
Analogi juga merupakan pusat iman Kristen. Seperti kata Paulus pada umat di Filipi 2:12-13. Kita bekerja keras atas keselamatan kita, tetapi pada akhirnya kita harus menyadari bahwa keselamatan itu adalah pemberian anugerah Tuhan dan kita harus bersyukur pada-Nya.

Filipi 2:12-13 : Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

Sumber: Proverb - Tremper Longman III, The NIV Study Bible

Friday, February 1, 2013

Amsal 1

Pendahuluan Amsal (Amsal 1:1-7)
Amsal 1:1 Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel.
Pada ayat pertama ini merupakan perkenalan nama pengarang kitab Amsal, di mana perkenalan nama sering juga muncul pada kitab lainnya.

Amsal 1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna,
"Hikmat" berarti ahli dalam pemahaman, keterampilan, dan piawai. Hikmat juga termasuk keterampilan dalam kehidupan mengikuti peta dan teladan Allah dan menghindari kejatuhan moral. Sementara "didikan" berarti perintah atau sarana penting menuju hikmat. Untuk menerima didikan memerlukan jiwa yang rendah hati mau tunduk dan taat, mendengar dengan seksama lalu menerimanya, mencintainya, menghargainya lebih tinggi dari uang, dan menolak melepaskannya. "Kata-kata yang bermakna" berasal dari pengertian yang bermula dari mengetahui dan melihat melalui pikiran, yang mana dapat kita pelajari dari kata-kata bermakna yang ada dalam pengajaran Salomo dalam kitab Amsal ini. Kata-kata yang bermakna ini juga dapat diartikan sebagai penilaian dan pemikiran yang benar.

Amsal 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran,"Didikan yang menjadikan pandai" dalam terjemahan bahasa inggris "teaching of insight" yang dapat kita juga artikan menjadi "pendidikan pengertian". Maksud yang ingin disampaikan adalah pendidikan pengenalan akan natur yang benar dari suatu situasi dan keadaan sehingga menghasilkan pengertian seperti: pandai dalam bersikap dan berpikiran sehat, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dalam banyak situasi. "Kebenaran" dapat digambarkan sebagai suatu pola yang hendaknya menjadi pola yang kita pakai dalam hidup kita. "Keadilan" akan tercipta ketika kebenaran dan kejujuran dilakukan.

Amsal 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda.Ayat ini ditujukan kepada orang yang berpikiran sederhana, contohnya seperti orang yang tidak berpengalaman atau naif, mudah tertipu, mudah terayu, dan mudah dicobai. Tetapi orang-orang ini merupakan orang yang paling tidak merusak dan tidak berbahaya karena pikiran negatifnya, karena mereka mempunyai kemampuan untuk memperbaiki atau memperbaharui diri dan dapat bekerja sama dalam lingkungan yang bijak. Orang yang berpikiran sederhana ini lebih baik daripada orang bodoh atau pencemooh, karena mereka lebih dapat menerima didikan dengan harapan hikmat menjadi bagian dari kecerdasan. "Kecerdasan" di sini dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menggunakan jawaban dan kecerdasannya untuk mendapatkan suatu tujuan, dalam konteks takut akan Allah, untuk mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan, mampu menimbang-nimbang sebelum memutuskan suatu keputusan dengan kepala dingin. Suatu kecerdasan membutuhkan moral yang logis. Selain itu, ayat ini juga ditujukan kepada orang-orang muda (belum dewasa) yang membutuhkan pengetahuan dan kebijaksanaan yang ada di dalam kitab Amsal. Orang muda yang dimaksud di sini dimulai dari masa kanak-kanak (berdasarkan kebudayaan orang Ibrani, anak-anak berusia 0-17 tahun, orang muda berusia 17-30, dan orang tua berusia 30 ke atas). Pada masa mudalah dimana berada di ambang kedewasaan sehingga penting baginya untuk memperoleh pengetahuan yang bijak. "Kebijaksaan" adalah bagian dari kemampuan menjalankan kehidupan dengan cara yang konstruktif dan melepaskan diri dari jalan yang jahat.

Amsal 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan. 
Ayat ini ditujukan kepada orang yang bijak, berbeda dari kategori yang telah kita perhatikan sebelumnya yaitu orang yang berpikiran sederhana atau orang muda. Hati orang bijaksana tentunya sudah pasti mencintai Tuhan, orang-orang bijaksana, dan pengajaran-Nya. Orang yang bijak bersifat mudah diajar, mencari pengetahuan, dan menyimpannya. Ayat permulaan ini mengingatkan pembaca bahwa bahkan orang yang lebih berpengalaman dapat memperoleh keuntungan dari refleksi pengajaran yang diberikan, sehingga dapat membangun dan meningkatkan struktur kehidupan yang telah dimiliki oleh orang itu. Hikmat yang diperlukan dalam sehari-hari adalah bijaksana dalam mendengar (Amsal 13:1), bijaksana dalam menasehati (Amsal 12:5), dan bijaksana dalam menerima perintah (Amsal 10:8). Orang bijak selalu berjalan dalam kebijaksanaan secara berkesinambungan dalam hidupnya, dimana orang bijak ini selalu membagi-bagikan pengetahuannya dan menjadi bak air terjun kehidupan yang mengaliri lingkungan sekitarnya. Dari semua karakter ini bersumber dari takut akan Tuhan dan meninggalkan yang jahat karena semua bijaksana bersumber dari Tuhan. "Bahan pertimbangan" dalam terjemahan bahasa inggris "guidance" bisa diartikan juga sebagai "arahan" atau " bimbingan".

Amsal 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. 
Orang yang bijak dapat meningkatkan hikmat mereka dengan membaca tulisan ayat-ayat dalam amsal ini. Hikmat yang dimaksud terdiri dari amsal, ibarat, perkataan-perkataan bijak, dan teka-teki. "Amsal" banyak menggunakan persamaan dan metapora yang sulit dimengerti untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran yang penting. "Ibarat" berisi pepatah yang sarat dengan sindiran dan sarkasme. "Perkataan orang bijak" kemungkinan tidak mengarah kepada perkataan-perkataan biasa sebanyak seperti yang tertulis dalam kumpulan hikmat. "Teka-teki orang bijak" berisikan misteri dan ambigu yang sulit dimengerti. Contoh teka-teki ini terdapat dalam kitab Hakim-hakim 14:14 mengenai teka-teki di hari perkawinan Simson.
Hakim 14:14 "Lalu katanya kepada mereka: "Dari yang makan keluar makanan, dari yang kuat keluar manisan." Ada tiga hari lamanya mereka tidak dapat memberi jawab teka-teki itu."

Amsal 1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Akhir dari ayat pendahuluan Amsal ini adalah tujuan dan keistimewaan dari keseluruhan kitab ini yaitu kebenaran yang paling dasar. Kalimat "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan" mengakui bahwa tidak ada pengetahuan yang terpisah dari kelakuan dan hubungan yang baik kepada Tuhan. Takut akan Tuhan merupakan reaksi yang sudah seharusnya diberikan kepada supremasi Tuhan dan kekudusan-Nya. Takut akan Tuhan adalah dasar dari segala pengetahuan yang disebut juga hikmat. Pengetahuan yang dimaksud adalah mengetahui bahwa tidak ada pengetahuan akan kebenaran yang tanpa mengarah kepada Tuhan. Banyak Amsal di pasal-pasal berikutnya berisi pengalaman, pengamatan, maupun jawaban manusia sebagai dasar nasehat. Kata "takut" di sini menuntut kelakuan yang baik dalam hubungan seseorang dengan Tuhan, yaitu "hormat". Dasar janji manusia untuk takut akan Tuhan adalah sepenuhnya tunduk kepada-Nya dan sadar atas ketergantungannya kepada-Nya. "Tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan", orang-orang ini tentunya tidak mempunyai pengetahuan atau pemahaman tentang apapun. Bahkan ada orang-orang pintar yang tidak peduli dan bertentangan dengan Tuhan baik pada zaman dahulu maupun zaman modern ini. Oleh karena itu mereka tidak dapat melihat gambaran yang lebih besar mengenai siapa yang menciptakan dunia ini. Pengetahuan akan kebenaran dimulai dari pengetahuan bahwa segala sesuatu diciptakan dan ditopang oleh Tuhan dan Dialah yang memberikan pengetahuan baik melalui wahyu maupun pengalaman, pengamatan, dan jawaban. Inilah yang disebut dengan "Pendahuluan Pengetahuan". Amsal dan Alkitab merupakan satu keseluruhan, jangan pernah mencoba membuktikan keberadaan Tuhan, dimana lebih menghadirkan keberadaan Tuhan sebagai presuposisi yang nyata dalam sejarah dan ciptaan. Secara lengkap ayat ini dapat kita lihat hubungan antara hikmat dan menaati hukum Allah. Orang takut akan Allah akan menaati hukum-Nya, yaitu hikmat.

Amsal ini digambarkan sebagai orang tua yang sedang menasihati anaknya. Kita sebagai anak diminta tanpa perkecualian untuk mendengarkan nasihat-nasihat orang tua karena orang tua kita sendiri adalah juga refleksi hikmat ilahi.

Nasihat dan Peringatan (Amsal 1:8-19)
Amsal ini digambarkan sebagai orang tua yang sedang menasihati anaknya. Kita sebagai anak diminta tanpa perkecualian untuk mendengarkan nasihat-nasihat orang tua karena orang tua kita sendiri adalah juga refleksi hikmat ilahi.

Amsal 1:8 Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu
Keterlibatan orang tua baik ayah maupun ibu dalam mendidik anaknya disebutkan pada ayat ini. "Anakku, dengarkanlah didikan ayah", kata 'dengarkanlah' dalam bahasa Ibraninya mempunyai arti lebih dari sekedar hanya mendengarkan; yaitu “patuh” atau “disiplin”. Anak harus berkelakuan sesuai dengan didikan yang diberikan, bukan hanya mempelajarinya mentah-mentah. Anak tidak boleh menyia-nyiakan ajaran ibu, melainkan melaksanakannya, baik ajaran-ajaran umum maupun ajaran-ajaran lain yang tidak ditujukan secara khusus ke hukum taurat.

Amsal 1:9 sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu
Ayat ini menggambarkan metafora perbandingan antara nasihat orang tua dan perhiasan, dimana hikmat itu mengakibatkan bertambahnya kekayaan.

Amsal 1:10-14 (10) Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut; (11) jikalau mereka berkata: "Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena; (12) biarlah kita menelan mereka hidup-hidup seperti dunia orang mati, bulat-bulat, seperti mereka yang turun ke liang kubur; (13) kita akan mendapat pelbagai benda yang berharga, kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan; (14) buanglah undimu ke tengah-tengah kami, satu pundi-pundi bagi kita sekalian."
Ayat 10 adalah peringatan kepada sang anak untuk menjauhi para pendosa terutama terhadap bujukannya. Bujukan di sini mengarah pada orang yang tak berpengalaman, karena lebih mudahnya mereka terpengaruhi. Contohnya adalah orang-orang yang berusaha untuk membuat kita untuk melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan. Bagi orang yang tidak berpengalaman akan lebih terpengaruh ataupun menurut untuk melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan. Dalam Ayat 11 lebih jelas para pendosa ingin sang anak melakukan serangan yang mematikan kepada orang-orang yang tak bersalah hanya untuk bersenang-senang bahkan untuk keuntungan semata dengan mengorbankan orang lain (ayat 13 & 14).

Amsal 1:15-19 (15) Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka, (16) karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah. (17) Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang bersayap, (18) padahal mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri. (19) Demikianlah pengalaman setiap orang yang loba akan keuntungan gelap, yang mengambil nyawa orang yang mempunyainya.
Orang tua tidak ingin agar anaknya mengikuti jejak para pendosa yang menyia-nyiakan hidupnya yang akhirnya akan menghancurkan hidup mereka sendiri. Mereka berjalan pada jalan yang jahat untuk tujuan yang rendah dengan melakukan kekerasan dengan menumpahkan darah. Hal ini menuju kepada kesia-siaan dimana mereka akan memakan perangkapnya sendiri. Karena siapa yang mengejar keuntungan dengan kekerasan akan membunuh orang. Mencari keuntungan yang benar adalah dengan kejujuran dan kerja keras (dapat kita temukan dalam Amsal-amsal berikutnya)

Setelah Ayah menasihati anak, berikutnya muncul seorang perempuan bernama Hikmat yang menasihati orang-orang yang belum dewasa. Hikmat disini digambarkan sebagai seorang perempuan (Woman Wisdom) yang kompleks, yaitu sebagai penyair, pengkotbah, penasihat, pengajar, dan pe-nubuat. Hikmat orang tua dan hikmat perempuan saling mendukung didikan masing-masing. 

Amsal 1:20-21 (20) Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, (21) di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya.
Hikmat (perempuan) adalah personifikasi hikmat Yahweh dan berdiri untuk Tuhan sendiri. Ketika ia berbicara, dia mengumpulkan relasi-relasi sekitarnya, mengingatkan kita tujuan kitab ini “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”. Tidak hikmat di luar hikmat (perempuan) ini. Dia berteriak-teriak di jalan dan ruang umum, karena ia ingin membawa pesannya kepada semua orang, tanpa rahasia dan terbuka untuk semua yang mendengar dan merespon.


Amsal 1:22-25 (22) Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan? (23) Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu. (24) Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, (25) bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku,
Hikmat menunjuk 3 macam orang bodoh: orang yang tidak berpengalaman, pencemooh, dan orang bebal. Orang yang tidak berpengalaman (orang yang naif dan belum dewasa) adalah orang yang paling mudah dididik. Sedangkan orang-orang yang termasuk dalam pencemooh adalah kumpulan orang yang paling sulit dididik, mereka telah mendengarkan nasihat, namun malah mengkritik dan mempermalukan si pemberi nasihat. Permasalahan utama dalam hikmat terhadap 3 macam orang bodoh ini adalah 'pengabaian'. Hikmat telah hadir kepada mereka untuk mengubah cara hidup mereka yang salah. Orang-orang bodoh ini telah menerima anugerah yang luar biasa, tetapi sayangnya mereka menolaknya.

Amsal 1:26-31 (26) maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, (27) apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. (28) Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku. (29) Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, (30) tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, (31) maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.
Ayat-ayat ini adalah artikulasi kemarahan sang hikmat (perempuan). Sang hikmat telah melakukan pendekatan kepada orang-orang, tetapi mereka menolaknya. Karena mereka menolak nasihatnya untuk hidup di jalan kehidupan yang dapat menghindarkan mereka dari masalah kehidupan, maka ketika mereka mendapatinya, sang hikmat akan menertawakan dan mengolok-olok mereka. Yang lebih buruk lagi, sang Hikmat orang bodoh yang menderita nantinya akan memanggil-manggil dia, tetapi akan tidak dipedulikannya. Mereka akan mencari hikmat, namun mereka tidak akan menemukannya. Karena sudah memliki kesempatannya, namun disia-siakan hingga akhirnya mereka mendapat hadiah dari ulah mereka sendiri.

Amsal 1:32-33 (32) Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. (33) Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka."
Adalah konklusi akhir dari nasib antara bodoh yang patuh dan tidak patuh. Yang tidak patuh akan mati, sedangkan yang patuh akan memperoleh hidup yang aman jauh dari masalah.


Sumber: Proverb - Tremper Longman III, The NIV Study Bible

Monday, January 7, 2013

Pendahuluan Amsal

Amsal adalah buku hikmat yang berakar kuat dalam dunia kuno. Kitab ini ditujukan kepada siapapun yang terbuka terhadap pengajaran dalam kitab ini untuk memperoleh pengetahuan berupa: hikmat, pembelajaran, pengertian, wawasan, kebijaksanaan, pengetahuan, dan nilai-nilai. Dalam bahasa Ibrani, kata "Amsal" berasal dari kata māšāl (bentuk tunggal) dan mišlê (bentuk jamak).










Sumber: Proverb - Tremper Longman III, The NIV Study Bible