Showing posts with label Tokoh Reformasi. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Reformasi. Show all posts

Thursday, April 11, 2013

95 Dalil Martin Luther

Sanggahan terhadap Kekuasaan dan Pengaruh Surat Pengampunan Dosa (Indulgensia).
Oleh Dr. Martin Luther.


Berasal dari cinta dan kepedulian terhadap kebenaran dan untuk menyatakan kebenaran itu, dalil-dalil berikut akan didiskusikan secara terbuka di Wittenberg di bawah pimpinan Bapa Martin Luther, imam dari ordo Augustinus, Magister dalam Ilmu-Ilmu dan Magister dalam Teologia Sakral, dan yang adalah Pengajar untuk hal-hal tersebut di sana. Beliau meminta agar siapa pun yang tidak dapat hadir secara pribadi untuk memperdebatkannya secara lisan dapat melakukannya melalui tulisan. Dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.


  1. Ketika Tuhan dan Tuan kita, Yesus Kristus, mengatakan “Bertobatlah”, Dia memanggil supaya segenap kehidupan setiap orang beriman menjadi suatu pertobatan yang satu dan sungguh.
  2. Seruan tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai suatu acuan kepada sakramen-sakramen penyesalan, yaitu pengakuan dosa dan penguatan yang dilaksanakan oleh imam.
  3. Walaupun demikian artinya tidak terbatas pada penyesalan di hati belaka; karena penyesalan yang demikian tidaklah berguna jika tidak menghasilkan tanda-tanda jasmani yang nyata dalam berbagai penyangkalan kedagingan.
  4. Hukuman terhadap dosa itu sama dengan membenci diri, karena inilah pertobatan hati yang sesungguhnya, yang berlangsung terus hingga kita memasuki kerajaan surga.
  5. Paus berdasarkan kekuasaan diri sendiri dan berdasarkan dalil-dalil yang telah ditetapkan menjalankan hukuman. Di luar itu ia tidak menghendaki maupun mempunyai kemampuan untuk meniadakan hukuman.
  6. Paus tidak dapat mengampuni dosa, tetapi hanya menyatakan dan meneguhkan bahwa itu telah diampuni oleh Allah; atau, sebanyak-banyaknya, ia dapat menguranginya dalam hal di mana ia berwenang. Melampaui ini, dosa itu tak terjamah.
  7. Allah tidak pernah mengampuni kesalahan seseorang tanpa, pada saat yang sama, membuatnya dengan rendah hati taat kepada pendeta, yang adalah wakil-Nya.
  8. Hukum-hukum pertobatan hanya dapat diterapkan kepada mereka yang masih hidup, dan, menurut hukum-hukum itu sendiri, tak ada yang dapat diterapkan kepada orang mati.
  9. Karena itu, Roh Kudus, bertindak melalui paus, menyatakan anugerah kepada kita, dalam hal peraturan-peraturan kepausan selalu gagal diterapkan pada kematian, atau dalam hal sulit lainnya.
  10. Adalah sesuatu yang salah ketika para pendeta menyatakan hilangnya hukuman atas orang mati di api penyucian dosa.
  11. Ketika hukuman yang ditetapkan dengan peraturan gerejawi diubah dan disesuaikan untuk menunjang api penyucian dosa, jelas itu merupakan ilalang yang ditaburkan ketika para kardinal tidur nyenyak.
  12. Dahulu, sanksi-sanksi gerejawi dinyatakan, bukan setelah, melainkan sebelum pengampunan dinyatakan; dan itu dimaksudkan sebagai ujian kesungguhan pertobatannya.
  13. Kematian membebaskan seseorang dari peraturan gerejawi; bahkan orang-orang yang sekarat sudah mati bagi tata gereja dan tidak lagi terikat olehnya.
  14. Orang sekarat yang kurang kasih mempunyai rasa takut yang sangat besar, yang semakin besar seiring dengan berkurangnya kasih.
  15. Ketakutan yang sedemikian ini pada dirinya sendiri sudah cukup, dengan tidak menyebutkan hal lainnya, sebagai hukuman pada api penyucian dosa, karena ketakutan yang demikian tidaklah berbeda jauh dengan ketakutan yang menyebabkan keputusasaan.
  16. Ada perbedaan yang sama antara neraka, api penyucian dosa, dan surga sebagaimana yang ada di antara keputusasaan, ketidaktentuan, dan jaminan.
  17. Sebenarnya, kesakitan jiwa-jiwa dalam api penyucian dosa seharusnya dikurangi dan secara sebanding cinta kasih ditambahkan.
  18. Terlebih lagi, tak dapat dibuktikan, berdasarkan akal budi maupun Kitab Suci, bahwa jiwa-jiwa ini berada di luar adanya jasa baik, atau tak dapat bertumbuh dalam anugerah.
  19. Tidak terbukti juga tampaknya bahwa mereka yakin dan terjamin atas keselamatan, bahkan bila kita sendiri sangat meyakininya.
  20. Karena itu sang paus, dalam hal penghapusan semua hukuman, tidak memaksudkan "semua" dalam arti yang ketat, tapi hanya hukuman yang dijatuhkan oleh dirinya sendiri.
  21. Karena itu mereka yang mengajarkan adanya surat pengampunan dosa bersalah ketika mereka mengatakan bahwa manusia dilepaskan dan diselamatkan dari semua hukuman dosa dengan surat pengampunan dosa sang paus;
  22. Sesungguhnya, ia tak dapat meniadakan kepada jiwa-jiwa di api penyucian dosa hukuman apa pun yang dinyatakan oleh peraturan gerejawi harus diderita dalam kehidupan sekarang ini.
  23. Jikalau pun ada orang yang kepadanya dapat dianugerahkan peniadaan hukuman, itu hanya akan terjadi dalam hal-hal yang paling sempurna, yang teramat jarang.
  24. Karena itu tentunya sebagian besar orang telah tertipu oleh janji muluk pembebasan dari hukuman dosa.
  25. Kekuasaan yang dimainkan paus atas api penyucian dosa secara umum juga dimainkan oleh kardinal dalam keuskupannya dan imam dalam jemaatnya.
  26. Baik sekali jika paus menganugerahkan pengampunan kepada jiwa-jiwa di api penyucian dosa dengan syafaat bagi mereka, dan tidak dengan kuasa pemegang kunci (yang memang tidak dimilikinya).
  27. Tidak ada otoritas ilahi atas pengajaran bahwa jiwa yang bersangkutan keluar dari api penyucian dosa pada saat uang pembayaran bergemerincing di dasar peti uang pembayaran.
  28. Tentunya mungkin bahwa ketika uang bergemerincing di dasar peti uang ketamakan dan cinta uang bertambah; tapi ketika gereja mempersembahakn syafaat, semuanya bergantung kepada kehendak Allah.
  29. Siapa yang mengetahui kebenaran cerita-cerita aneh St. Senetinus dan St. Paschal tentang apakah semua jiwa yang ada di api penyucian dosa mau ditebus? (Catatan: Paschal I, paus 817-24. Legenda mengatakan bahwa ia dan Severinus berkenan menanggung sakitnya api penyucian dosa bagi orang-orang beriman.)
  30. Tak seorang pun yang mengetahui kesungguhan pertobatannya, apalagi pengampunan keseluruhan dosanya.
  31. Orang yang dengan tulus hati membeli surat pengampunan dosa sedikit sekali, sebagaimana sedikitnya orang yang mengakui dosanya dengan tulus hati.
  32. Setiap orang yang percaya atas keselamatan mereka berdasarkan surat pengampunan dosa, akan dihukum dalam kekekalan, bersama dengan guru-guru mereka.
  33. Kita harus berhati-hati terhadap orang-orang yang mengatakan surat pengampunan dosa dari paus adalah hadiah ilahi yang tak terkira, dan melaluinya manusia didamaikan dengan Allah;
  34. Karena, anugerah yang dinyatakan oleh surat-surat itu hanya berhubungan dengan hukuman-hukuman sakramental “pengakuan dosa” yang ditetapkan oleh manusia semata.
  35. Mengkhotbahkan dan mengajarkan bahwa mereka yang membeli jiwa-jiwa, atau surat pengakuan tidak perlu bertobat dari dosa-dosa mereka, tidak sesuai dengan doktrin Kristen.
  36. Orang Kristen manapun, yang benar-benar bertobat, menikmati pengampunan sepenuhnya dari hukuman dan kesalahan, dan ini diberikan kepadanya tanpa surat pengampunan dosa.
  37. Orang Kristen manapun, hidup maupun mati, turut ambil bagian dalam semua keuntungan Kristus dan Gereja; dan keturutsertaan ini dianugerahkan kepadanya oleh Allah tanpa surat pengampunan dosa.
  38. Namun demikian pengampunan paus tidak dapat dipandang rendah, karena sebagaimana dikatakan, paus menyatakan pengampunan ilahi.
  39. Adalah sangat sulit, bahkan untuk teolog yang paling terpelajar sekalipun, meninggikan surat pengampunan dosa, sementara, pada saat yang sama, mengakui perlunya pertobatan.
  40. Seorang petobat sejati mencari, dan rindu untuk menebus, hukuman dosanya; sedangkan surat pengampunan dosa menumpulkan kesadaran manusia, dan cenderung membuat mereka mencoba mengindari hukumannya.
  41. Surat pengampunan dosa kepausan hanya boleh diajarkan dengan hati-hati, agar jangan orang memperoleh pengertian yang salah, dan menganggapnya lebih penting daripada pekerjaan baik lainnya: kasih.
  42. Orang-orang Kristen seharusnya diajarkan bahwa paus sama sekali tidak memaksudkan pembelian surat pengampunan dosa dimengerti sebanding dengan pekerjaan anugerah.
  43. Orang-orang Kristen seharusnya diajarkan bahwa seseorang yang memberikan kepada orang miskin, atau meminjamkan kepada yang memerlukan, melakukan sesuatu yang lebih baik daripada membeli surat pengampunan dosa.
  44. Karena, oleh karya kasih, kasih itu bertumbuh dan seorang manusia menjadi seseorang yang lebih baik; sedangkan, oleh surat pengampunan dosa, ia tidak menjadi orang yang lebih baik, tetapi hanya lari dari hukuman tertentu.
  45. Orang-orang Kristen seharusnya diajar bahwa ia yang melihat orang yang berkekurangan, tetapi melewatinya walaupun ia membeli surat pengampunan dosa, tidak beroleh apapun dari pengampunan paus, tapi akan menerima murka Allah.
  46. Orang-orang Kristen seharusnya diajar bahwa, kecuali mereka memiliki lebih daripada yang mereka butuhkan, mereka harus membelanjakan hanya untuk kelangsungan rumah tangga mereka, dan tidak sepantasnya memboroskannya dalam surat pengampunan dosa.
  47. Orang-orang Kristen seharusnya diajarkan bahwa mereka seharusnya membeli surat pengampunan dosa secara sukarela, dan bukan dengan terpaksa.
  48. Kepada orang-orang Kristen seharusnya dibuktikan bahwa, dalam menganu-gerahkan surat pengampunan dosa, paus memiliki kepentingan, dan terlebih lagi hasrat, atas doa syafaatnya yang tekun dan bukan atas uang tunai.
  49. Orang-orang Kristen seharusnya diajarkan bahwa surat pengampunan dosa dari paus hanya berguna bila seseorang tidak bergantung padanya, tetapi akan sangat berbahaya bila melaluinya orang kehilangan rasa takutnya akan Allah.
  50. Kepada orang-orang Kristen seharusnya dibuktikan bahwa, bila paus mengetahui adanya pemerasan dalam penjualan surat pengampunan dosa, lebih baik baginya bila Basilika St. Petrus dihancurkan menjadi debu daripada dibangun dengan kulit, daging dan tulang domba.
  51. Kepada orang-orang Kristen seharusnya diperlihatkan bahwa paus bersedia, sebagaimana seharusnya bila memang diperlukan, menjual Basilika St. Petrus, serta memberikan uangnya dan juga uang pribadinya kepada orang banyak yang tertipu dengan membeli surat penghapusan siksa.
  52. Menggantungkan diri pada keselamatan berdasarkan surat penghapusan siksa adalah sia-sia sekalipun para wakil paus, bahkan paus sendiri, menjaminkan jiwanya keabsahan atas surat itu.
  53. Mereka yang melarang Firman Allah dikabarkan sama sekali di beberapa gereja, agar dapat mengabarkan surat penghapusan siksa adalah musuh Kristus dan paus.
  54. Firman Allah didera apabila dalam suatu khotbah waktu yang dialokasikan untuk surat penghapusan siksa sama atau bahkan lebih dibandingkan untuk Firman itu.
  55. Paus tidak dapat mengambil sudut pandang lain selain bahwa jika surat penghapusan siksa (hal yang sangat kecil) dirayakan dengan satu lonceng, perayaan, atau satu upacara, Injil (hal yang sangat besar) haruslah diajarkan sebanding dengan seratus lonceng, seratus perayaan, seratus upacara.
  56. Harta gereja, yang darinya surat penghapusan siksa dibagi-bagikan oleh paus, belum ditetapkan sepenuhnya dan tidak cukup dikenal di antara orang-orang Kristen.
  57. Bahwa harta ini setidaknya bukan harta duniawi nyata karena harta ini tidak demikian saja dibagi-bagikan, tetapi hanya dikumpulkan, oleh banyak pengajar.
  58. Harta itu bukan juga jasa baik Kristus dan orang-orang suci, karena tanpa paus sekalipun, jasa-jasa baik ini selalu mengerjakan karya anugerah dalam pribadi seseorang sambil menyalibkan kedagingan orang itu agar binasa.
  59. St. Laurensia berkata bahwa orang-orang miskin adalah harta gereja, tapi ia menggunakan istilah tersebut sesuai dengan konteks pengertian zamannya.
  60. Kami tidak asal bicara ketika mengatakan bahwa harta gereja adalah “kunci-kunci gereja” dan itu diurapi atas jasa-jasa baik Kristus.
  61. Karena jelas bahwa kuasa paus pun cukup untuk mengurangi hukuman dan kasus-kasus khusus.
  62. Harta Gereja yang sejati adalah Injil Suci tentang kemuliaan dan anugerah Allah.
  63. Memang harta ini dapat dianggat sangat tidak menyenangkan, karena membuat yang pertama menjadi yang terakhir.
  64. Di sisi lain, harta penyucian dosa menyenangkan, karena membuat yang terakhir menjadi yang pertama.
  65. Karena itu kekayaan injil adalah jejaring yang, pada masa-masa yang lalu, mereka gunakan untuk memancing orang-orang kaya.
  66. Sedangkan kekayaan surat penghapusan siksa adalah jejaring yang mereka gunakan saat ini untuk memancing orang-orang kaya.
  67. Surat-surat penghapusan siksa, yang dipromosikan sebagai berkat terbesar, sebenarnya hanyalah alat untuk mengumpulkan uang.
  68. Bagaimanapun, surat-surat itu tidak dapat dibandingkan dengan anugerah Allah dan kasih sayang yang ditunjukkan di Salib.
  69. Para uskup dan pastor, karena ikatan dinas, diharuskan menerima dengan tulus dan hormat posisinya sebagai agen kepausan surat penghapusan siksa tersebut;
  70. Tapi mereka berada di bawah kewajiban yang jauh lebih besar yang harus ditaati dan dipelihara dengan seksama sehingga orang-orang ini tidak mengajar semau mereka sendiri dan bukannya apa yang ditugaskan paus.
  71. Biarlah orang yang menyangkal khasiat surat penghapusan siksa menjadi kutuk.
  72. Di sisi lain, diberkatilah dia yang berhati-hati terhadap bualan para penjual surat penghapusan siksa tersebut.
  73. Dengan cara yang sama, sang paus dengan baik mengucilkan mereka yang membuat rencana apapun terhadap kerusakan perdagangan surat penghapusan siksa.
  74. Sejalan dengan itu, orang-orang yang menggunakan surat penghapusan siksa berniat merusak kebenaran dan kasih yang kudus terlebih lagi harus dikucilkan.
  75. Bodohlah mereka yang berpikir surat pengampunan dosa dari paus memiliki kuasa yang demikian besar sehingga mereka dapat membebaskan seseorang bahkan bila ia telah melakukan yang tak terampuni dan menghujat ibunda Allah.
  76. Kami menyatakan yang sebaliknya, dan mengatakan bahwa pengampunan paus tidak mampu menghilangkan bahkan dosa yang paling remeh sekalipun selama kesalahan mereka sendiri diperhitungkan.
  77. Pernyataan bahwa St. Petrus sekalipun, jika ia sekarang adalah paus, dapat menganugerahkan karunia yang lebih besar, adalah penghinaan terhadap St. Petrus dan sang paus.
  78. Kami menyatakan yang sebaliknya, dan mengatakan bahwa ia, dan paus yang mana pun juga, memiliki anugerah yang lebih besar, yaitu: Injil, kekuasaan-kekuasaan rohani, karunia menyembuhkan, dsb., sebagaimana dinyatakan dalam I Korintus 12.
  79. Mengatakan bahwa nilai salib sebanding dengan kekuasaan kepausan adalah penghinaan terhadap salib Kristus.
  80. Para uskup, pastor, dan teolog, yang mengizinkan pengajaran semacam itu diberikan kepada umat harus mempertanggungjawabkannya kelak.
  81. Pengajaran tentang surat penghapusan siksa yang tak terkendali ini membuat bahkan orang-orang terpelajar pun sulit menjaga kehormatan paus dari tuduhan-tuduhan dusta, maupun dari kritikan para anggota jemaat yang awam;
  82. Mereka bertanya, misalnya: Kenapa paus tidak melepaskan semua orang dari api penyucian dosa atas nama kasih (hal yang paling suci) dan karena kebutuhan tertinggi jiwa mereka? Secara moral ini akan menjadi yang terbaik dari semua alasan. Sementara itu ia menebus jiwa dengan jumlah yang tak terhingga demi uang, hal yang paling dapat musnah, untuk membangun gereja St. Petrus, tujuan yang sangat sepele.
  83. Dan lagi: Kenapa upacara pemakaman dan peringatan orang-orang mati tetap diadakan? Dan kenapa paus tidak mengembalikan, atau setidaknya mengizinkan pengembalian, uang yang dibayarkan untuk keperluan ini, jika memang berdoa untuk jiwa-jiwa dari orang-orang yang telah meninggal itu salah?
  84. Dan lagi: Tentulah ini suatu jenis kasih sayang yang baru, di pihak Allah dan paus, ketika seorang pendosa, musuh Allah, diizinkan membayar sejumlah uang untuk menebus jiwa seorang saleh, sahabat Allah; sedangkan jiwa orang saleh yang terkasih itu tidak boleh ditebus tanpa pembayaran, walaupun demi cinta kasih dan tidak dapat ditebus semata-mata karena kebutuhannya akan penebusan.
  85. Dan lagi: Kenapa peraturan-peraturan penyesalan dosa, yang tidak dipraktekkan dan telah lama usang dan mati masih digunakan dalam mendenda sejumlah uang melalui surat penghapusan siksa seakan-akan seluruh peraturan itu masih berlaku?
  86. Dan lagi: Penghasilan paus saat ini lebih besar daripada orang kaya yang paling kaya sekalipun; mengapa ia tidak membangun Basilika St. Petrus ini dengan uangnya sendiri, malahan menggunakan uang para anggota jemaat yang miskin?
  87. Dan lagi: Apa yang dikurangi atau ditiadakan oleh paus kepada mereka yang memiliki penyesalan yang sempurna sehingga—atas dasar ketetapan paus—mempunyai hak atas pengampunan yang total?
  88. Dan lagi: Tentunya gereja akan mendapatkan kebaikan yang lebih besar jika paus menganugerahkan pengampunan, tidak sekali, seperti sekarang, tetapi seratus kali sehari, demi kepentingan orang-orang percaya.
  89. Apa yang dicari paus dengan surat penghapusan siksa bukanlah uang, tetapi keselamatan jiwa-jiwa; kalau demikian kenapa ia tidak menangguhkan surat-surat penghapusan siksa yang telah terlebih dulu dikeluarkan, dan tetap segigih sebelumnya?
  90. Pertanyaan-pertanyaan ini serius dan muncul dari kenyataan sehari-hari yang dihadapi orang-orang awam. Dengan menekan mereka menggunakan kekuatan yang ada, dan tidak menanggapinya dengan memberikan argumen, berarti memaparkan gereja dan paus menjadi cemoohan musuh-musuh mereka, dan tidak membahagiakan orang-orang Kristen.
  91. Jika karena itu, surat-surat penghapusan siksa dikhotbahkan sesuai dengan roh dan pikiran paus, segala kesulitan ini akan dengan mudah diatasi, dan bahkan, ditiadakan.
  92. Jauhlah, karena itu, nabi-nabi yang mengatakan kepada umat Kristus, "Damai, damai," di mana tidak ada damai.
  93. Celakalah, celakalah kepada semua nabi yang mengatakan kepada umat Kristus, "Salib, salib," di mana tidak ada salib.
  94. Orang-orang Kristen seharusnya didorong untuk giat mengikut Kristus, Kepala mereka, melalui hukuman, kematian, maupun neraka;
  95. Dan biarlah mereka dengan demikian menjadi lebih yakin untuk memasuki surga melalui banyak pencobaan daripada melalui jaminan-kedamaian yang palsu.

Tuesday, March 5, 2013

Martin Luther

Martin Luther (1483-1546), adalah seorang pastur Jerman, professor teologi, dan figur penting dalam reformasi. Ia merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah Kekristenan ketika ia memulai Reformasi Protestan di abad 16. Dia mempertanyakan beberapa dasar doktrin Katholik Roma, dan pengikutnya dengan cepat memisahkan diri dari Gereja Katholik Roma untuk memulai tradisi Protestan.

Masa kecil:
Lahir pada 10 November 1483 di Eisleben, Saxony (sekarang Jerman bagian tenggara), bagian dari Kekaisaran Romawi Suci, anak dari  Hans and Margarette Luther dari kalangan buruh tani yang berhasil dalam pertambangan tembaga. Martin adalah nama baptisan yang diperolehnya karena hari pembaptisannya bertepatan dengan hari Santo Martin, pelindung kaum pengemis. Pada tahun 1484, keluarga Luther pindah ke Mansfeld. Ayahnya bertekad bahwa anaknya harus menjadi pegawai negeri dan memberikan kehormatan kepada keluarganya. Dengan harapan itulah Hans mengirimkan Martin yang masih berusia 7 tahun untuk belajar di Mansfeld, lalu melanjutkan sekolahnya di Magdeburg pada usia 14 tahun. Namun Hans Luther memiliki rencana lain bagi Martin, ia ingin anaknya agar menjadi pengacara sehingga ia menarik Martin dari sekolah di Magdeburg dan mengirimnya ke sekolah baru di Eisenach. Pada tahun 1498, Martin Luther kembali ke Eisleben dan mendaftar ke sekolah, mempelajari tata bahasa, retorika, dan logika. Ia lalu membandingkan pengalaman ini terhadap penyucian dosa dan neraka. 

Pada usia 17 tahun, di tahun 1501, Luther masuk ke Universitas Erfurt, dan mendapatkan gelar sarjananya pada 1502, dan gelar magisternya (tata bahasa, logika, retorika, dan metafisika) pada 1505. Menuruti keinginan ayahnya, Luther mendaftar di sekolah hukum pada universitas yang sama tahun itu, tetapi dengan cepat ia keluar, karena percaya bahwa hukum melambangkan ketidakpastian. Luther mencari kepastian tentang kehidupan dan tertarik pada teologi dan filosofi, menampilkan ketertarikan khusus pada Aristotle, Wlliam of Ockham, dan Gabriel Biel. Ia sangat dipengaruhi oleh dua guru, Bartholomaeus Arnoldi von Usingen dan Jodocus Trutfetter, yang mengajarkan Luther agar tidak percaya bahkan kepada pemikir besar dan menguji semua hal tentang dirinya sendiri melalui pengalaman. Filosofi terbukti tidak memuaskan, yang menawarkan kepastian tentang penggunaan akal budi tetapi tanpa mencintai Tuhan, yang Luther anggap lebih penting. Akal budi tidak dapat memimpin manusia kepada Tuhan, dan kemudian ia membuat hubungan cinta-benci dengan Aristotle melalui penekanan akhir pada akal budi. Bagi Luther, akal budi dapat digunakan untuk menanyakan manusia dan institusi, bukan Tuhan. Manusia dapat belajar tentang Tuhan hanya melalui Wahyu Allah, dia percaya, dan kitab suci menjadi bertambah penting baginya.

Kehidupan Martin Luther berubah ketika pada suatu hari di musim panas tahun 1505, saat ia sedang dalam perjalanan dari Mansfeld ke Erfurt terjebak serangan badai. Di suatu hutan dekat desa Stotternheim, petir menyambar di dekatnya, sehingga ia terlempar jauh akibat tekanan udara. Dalam ketakutan, ia berseru, "Tolonglah, Santa Anna! Saya akan menjadi biarawan!". Badai mereda dan karena nyawanya selamat, Luther meninggalkan sekolah hukumnya dan masuk ke biara Augustinian di Erfurt pada 17 Juli 1505 (Banyak sejarahwan percaya bahwa tindakan Martin Luther bukanlah tindakan yang spontan, tetapi sudah terformula di benak pikirannya). Bisa dibayangkan betapa marah ayahnya kepada Martin, karena ayahnya menginginkan ia menyelesaikan studi hukumnya. Luther juga didorong oleh rasa takut akan neraka dan murka Tuhan, dan merasa bahwa hidup di biara akan menolong dia menemukan keselamatan.

Martin Luther Masuk Biara:
Martin Luther sepenuhnya mengabdikan dirinya pada hidup membiara, dengan melakukan segala perbuatan untuk menyenangkan Tuhan dengan berpuasa, berdoa selama berjam-jam, berziarah, dan sering melakukan pengakuan dosa. Awal kehidupan membiara begitu sulit bagi Martin Luther, karena ia tidak menemukan pencerahan religius yang ia cari. Johann von Staupitz, atasan Luther, menyuruhnya untuk memfokuskan hidupnya secara khusus pada Kristus dan kemudian hal ini akan menjadi petunjuk yang ia cari. Dia mengajarkan bahwa pertobatan tidak meliputi penebusan dosa atas usaha sendiri dan penghukuman tetapi lebih dari perubahan hati.
Pada 1507 Luther ditahbiskan menjadi imam. Pada 1508 ia mulai mengajar teologi di Universitas Wittenberg. Pada 9 Maret 1508 ia mendapatkan gelar sarjananya dalam Studi Alkitab, dan gelar sarjananya dalam "Sentences"  karya Petrus Lombardus (buku ajar teologi yang terutama pada Zaman Pertengahan) pada 1509. Pada umur 27, Luther berkesempatan untuk menjadi utusan ke sebuah konferensi gereja di Roma. Ia menjadi lebih kecewa, dan sangat putus asa oleh kekekalan dan korupsi yang ia saksikan di sana di antara imam-imam Katholik. Sekembalinya ke Jerman, ia masuk ke Universitas Wittenberg dalam upaya untuk menekan kekacauan rohaninya. Pada 9 Oktober 1512 ia menerima gelar Doktor Teologi, dan pada 21 Oktober 1521 ia diterima menjadi anggota senat dosen teologi" dan diangkat menjadi Doktor dalam Kitab Suci. Luther menghabiskan karirnya di jabatan ini di Universitas Wittenberg.

Pencerahan Rohani:
Melalui studi kitab suci, Martin Luther akhirnya mendapatkan pencerahan rohani. Awal 1513, saat mempersiapkan bahan kuliah, ia membaca Mazmur 22,  yang menceritakan tangisan Kristus memohon pengampunan di kayu salib, tangisan yang sama dengan kekecewaan Luther terhadap Tuhan dan agama.  Luther mulai memahami inti teologi salib. Dua tahun kemudian, saat mempersiapkan bahan kuliah Surat Paulus kepada Jemaat di Roma. Konsep Kebenaran Allah sangat dominan dalam kitab Roma. Pertanyaan Luther dalam hati sanubarinya "Allah dengan kebenaran-Nya yang sempurna akan mengadili setiap orang. Bagaimana jika orang berdosa sesungguhnya tidak akan pernah memenuhi standard keadilan Allah supaya dibenarkan, meskipun orang berdosa tulus mencari-Nya?". Pertanyaan ini memberikan dilema yang luar biasa. Kebenaran Allah hanya akan mendatangkan kutukan dan hukuman bagi orang berdosa, tanpa terkecuali dirinya sendiri. Bahkan Luther menuliskan, "Meskipun aku hidup tidak bercela sebagai seorang imam, namun aku yakin bahwa aku tetap orang yang berdosa dan hati nuraniku sangat gelisah di hadapan Allah. Aku tidak percaya segala perbuatanku dapat menyenangkan Allah". Pada suatu malam sekitar akhir tahun 1514, Luther terpaku membaca "... orang benar akan hidup oleh iman" (Roma1:17). Tulisan Paulus ini menggetarkan hatinya dan Ia mendalami kalimat ini untuk beberapa waktu. Akhirnya ia menyadari bahwa kunci keselamatan rohani bukanlah takut akan Tuhan atau diperbudak oleh dogma religius tetapi adalah percaya bahwa oleh iman itu sendiri akan membawa keselamatan. Luther mengingat ajaran Agustinus tentang "Anugerah" yang pernah dibacanya. Doktrin "Anugerah" yang pernah dituliskan Agustinus dalam buku Confessions adalah salah satu ajaran penting yang telah begitu lama dilupakan gereja. Doktrin ini meyakini bahwa tidak ada satupun manusia berdosa mampu menyelamatkan dirinya. Hanya Allah yang dapat mengampuni manusia dalam kedaulatan-Nya. Pengampunan inilah yang disebut anugerah, suatu anugerah yang sebenarnya tidak layak diberikan kepada kita. Bahkan iman pun adalah pemberian Allah, bukan usaha dan keputusan manusia. Alkitab dan Agustinus telah "melahirkan" Luther kembali. Luther menyaksikan seluruh kegelisahan hatinya lenyap, "Seperti ada tertulis bahwa orang benar hidup oleh imannya. Ini membuat aku seperti dilahirkan kembali. Kini aku seakan berdiri di depan pintu gerbang surga dalam suatu terang yang baru. Kalau dulu aku membenci ungkapan 'Kebenaran Allah', maka sekarang aku mulai mencintai dan memujinya sebagai ungkapan yang paling manis..." Luther pun mulai melihat seluruh isi kitab suci dengan sudut pandang yang baru. Di periode ini ditandai perubahan besar dalam hidupnya dan gerakan Reformasi.

Lahirnya Reformasi:
Pada tahun 1510 sampai 1520, Luther mengajar Mazmur, kitab Ibrani, Roma, dan Galatia. Martin Luther mendalami studi Alkitab, terutama surat tulisan dari rasul Paulus, kebenaran Tuhan sejati dan Luther mendapatkan pengetahuan yang berlimpah bahwa ia "diselamatkan oleh anugerah melalui iman" itu sendiri (Efesus 2:8). Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Oleh karena itu ia mulai melihat penggunaan istilah seperti penebusan dan kebenaran oleh Katholik Roma dalam cara yang baru. Ia menjadi yakin bahwa Gereja telah keliru dalam beberapa kebenaran sentral dari Kekristenan yang diajarkan dalam Kitab Suci, yang terpenting bagi Luther adalah doktrin tentang pembenaran oleh iman semata. Luther mulai mengajarkan bahwa keselamatan sepenuhnya adalah pemberian anugerah Allah yang diperoleh hanya melalui iman dalam Yesus Kristus sang Mesias. Kebenaran wahyu Tuhan ini tidak hanya mengubah kehidupan Luther, tetapi juga akan mengubah arah sejarah gereja.

Pada tahun 1514, Martin Luther mulai melayani dengan menjadi pastor di gereja kastil Wittenburg. Ia berkotbah tentang Firman Tuhan kepada orang-orang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Pada masa ini, gereja Katholik melakukan kegiatan yang berlawanan dengan Alkitab dengan menjual Indulgensia.

Sementara itu, Paus Leo X membutuhkan dana untuk merenovasi Basilika St. Petrus. Kebetulan baginya, gereja memiliki sumber pemasukan yang besar atas penjualan indulgensia. Pada tahun 1516, Johann Tetzel, seorang imam Dominika ditugaskan oleh Gereja Katholik Roma untuk menjual indulgensia guna merenovasi Basilika St. Petrus di Roma. Dengan berkeliling ke kota-kota di Jerman, Tetzel dengan persuasif berusaha meyakinkan jemaat untuk membeli surat indulgensia. Kalimatnya yang terkenal dan sering diucapkannya, "Saat uang logam bergemerincing masuk kotak uang, maka jiwa dari api penyucian akan terbebaskan."
 
Menurut teologi Katholik Roma bahwa iman saja tidak dapat membenarkan manusia, tetapi lebih bergantung pada iman yang melakukan amal dan berkelakuan baik secara aktif dapat menyelamatkannya. Berkelakuan baik dapat dilakukan dengan menyumbangkan uang kepada gereja. Mereka yang membeli surat indulgensia dijanjikan akan mendapatkan pengurangan hukuman atas dosa mereka, pengampunan dosa bagi sanak saudara yang berada di api penyucian, dan bisa juga untuk pengampunan penuh dari segala dosa. Luther menganggap penjualan indulgensia ini sebagai penyelewengan yang dapat menyesatkan umat sehingga mereka hanya mengandalkan indulgensia itu saja dan mengabaikan pengakuan dosa dan pertobatan sejati.

Pada 31 Oktober 1517, Luther memaku 95 dalil Luther dipakukan pada pintu Gereja Kastil sebagai undangan terbuka bagi pemuka-pemuka gereja untuk memperdebatkan praktik penjualan indulgensia dan menggarisbesarkan doktrin Alkitab pembenaran oleh iman saja. Tindakan memaku 95 dalil ini menjadi saat yang menentukan dalam sejarah Kekristenan, yaitu simbol lahirnya Reformasi Protestan. Pada masa itu, adalah suatu kebiasaan bila ada topik yang hendak didiskusikan atau diperdebatkan maka seseorang bisa memakukan undangannya di pintu gereja Wittenberg. 95 dalil ini mengkritik keras indulgensia karena menyesatkan iman orang-orang. Luther juga mengirimkan salinan 95 dalil ini kepada Uskup Agung Albrecht dari Mainz, menghubunginya untuk mengakhiri penjualan indulgensia. Namun Uskup Agung Albrecht dari Mainz tidak membalas surat Luther yang berisi 95 dalil ini. Ia telah memeriksa dalil-dalil tersebut dan menyampaikannya ke Roma. Ia memerlukan pendapatan dari penjualan indulgensia untuk membayar dispensasi kepausan untuk masa jabatan lebih dari satu keuskupan. Dibantu dengan mesin cetak, salinan 95 dalil tersebar ke seluruh Jerman dalam dua waktu minggu dan ke seluruh Eropa dalam waktu dua bulan, serta mencapai Prancis, Inggris, dan Italia pada awal tahun 1519.

Penolakan Gereja Katholik Roma:
Pada tiga tahun berikutnya Paus Leo X menempatkan serangkaian teolog-teolog dan utusan-utusan kepausan untuk melawan Luther. Pertama, Sylvester Mazzolini, teolog dari Dominika menyatakan Luther sebagai bidat, dan menulis bantahan ilmiah terhadap dalil-dalilnya. Bantahan ini menegaskan kewibawaan paus terhadap Gereja dan menolak setiap penyimpangan daripadanya yang dianggap sebagai ajaran sesat. Luther menjawab dalam cara yang sama, sehingga berkembanglah suatu pertikaian. Sementara itu, Luther ikut serta dalam sebuah pertemuan biarawan Augustinian di Heidelberg. Di sana ia menjelaskan thesisnya tentang perbudakan manusia di dalam dosa dan tentang anugerah ilahi. Karena perlawanannya terhadap doktrin yang mendasari penjualan indulgensia, Luther dicap sesat, dan paus, yang telah bertekad untuk menekan pandangan-pandangannya, memanggilnya ke Roma. Frederick 'si pemilih' membujuk Paus untuk memeriksa Luther di Imperial Diet Augsburg.

Gereja akhirnya mengambil tindakan untuk menghentikan perlawanan ini. Pada oktober 1518, pada pertemuan dengan Kardinal Thomas Cajetan di Augsburg, Martin Luther diperintah untuk menarik kembali 95 thesis oleh otoritas Paus. Luther mengatakan ia tidak akan menarik kembali 95 thesis jika Alkitab dapat membuktikan bahwa ia bersalah, dan menganggap bahwa Kepausan tidak memiliki otoritas dalam mentafsirkan Alkitab. Pertemuan ini diakhiri dengan pertengkaran mulut. Konfrontasi Luther terhadap gereja membuatnya menjadi musuh Paus, dan hal ini mengawali dikeluarkannya Martin Luther dari Gereja. Perintah Cajetan sesungguhnya adalah menangkap Luther jika ia tidak mau menarik 95 thesisnya, tetapi Cajetan kekurangan dukungan sarana di Augsburg, di mana Frederick telah menjamin keamanan Luther. 

Selama 1519, Martin Luther tetap mengajar dan menulis di Wittenberg. Pada bulan Juni dan Juli tahun itu, ia mengumumkan secara publik bahwa Alkitab tidak memberikan hak istimewa untuk mengtafsirkan kitab suci, ini merupakan serangan langsung terhadap otoritas Kepausan. Di tahun 1520, paus kehabisan kesabaran dan akhirnya pada tanggal 15 Juni mengeluarkan ultimatum untuk mengancam dikeluarkannya Luther. Pada 10 desember 1520, Luther membakar ultimatum itu di depan publik.

Dikeluarkannya Martin Luther:
Pada bulan Januari 1521, Martin Luther resmi dikeluarkan dari Gereja Katholik Roma. Pada bulan Maret, ia dipanggil menghadap Diet of Worms, sebuah sidang umum otoritas sekuler yang diresmikan oleh Kaisar Charles V. Johann Eck, berbicara atas nama Kerajaan sebagai asisten Uskup Agung Trier, menampilkan Luther dengan salinan tulisan-tulisannya diletakkan di atas meja dan bertanya kepadanya apakah salinan-salinan itu milik Luther dan apakah ia tetap berpegang pada isinya. Luther mengkonfirmasikan bahwa ialah penciptanya, tetapi meminta waktu untuk menjawab pertanyaan kedua. Ia berdoa, berkonsultasi kepada kawan-kawan, dan memberi jawabannya keesokan harinya. Luther tetap pada keputusannya, dan menuntut agar diperlihatkan Alkitab di bagian mana yang membuktikan bahwa ia salah, dengan mengucapkan kalimat yang sangat terkenal:
"Kecuali kalau aku diyakinkan oleh Kitab Suci atau oleh alasan yang jelas (karena aku tidak percaya baik kepada paus maupun majelis saja, seperti diketahui bahwa mereka sering saling keliru dan bertentangan antara mereka sendiri), Aku terikat oleh Alkitab dan kesadaranku ditawan oleh Firman Tuhan. Aku tidak dapat dan tidak akan menarik apapun, karena tidaklah baik ataupun berhak melawan hati nurani. Semoga Tuhan menolong saya. Amin."
Namun kesalahan Martin Luther tidak ditemukan. Pada tanggal 8 mei 1521, majelis mengeluarkan Edict of Worms, yang melarang tulisan-tulisan Luther dan menyatakan bahwa ia adalah sesat. Kemudian kawan-kawan Luther menolongnya untuk sembunyi di Kastil Wartburg.  Friends helped him hide out at the Wartburg Castle. Saat di pengasingan, Luther menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman agar orang-orang awam memiliki kesempatan membaca Firman Tuhan.

Pada bulan mei 1522, meskipun Martin Luther masih di bawah ancaman penangkapan, ia kembali ke Gereja Kastil Wittenberg, di Eisnach. Ajaibnya ia mampu menghindari penangkapan dan memulai pengorganisasian gereja baru, Lutheran. Ia memperoleh banyak pengikut dan mendapatkan dukungan dari pangeran-pangeran Jerman. Ketika pemberontakan petani dimulai (tahun 1524), Luther mengecam para petani dan bergabung dengan para penguasa, dimana ia bergantung agar gerejanya tetap bertumbuh. Ribuan petani terbunuh, tetapi gereja Luther bertumbuh tahun demi tahun.